Perusahaan Inggris Kembangkan Baterai Ponsel Tahan 7 Hari EMPAT

Ponsel bertenaga fuel cell buatan Toshiba.

Sebentar lagi sepertinya rasa takut kehabisan daya baterai ponsel saat kita membutuhkannya akan menjadi kenangan masa silam.

Intelligent Energy, perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang fuel cell (sel bahan bakar), mendapatkan dana USD7,6 juta (Rp104,11 miliar) dari sebuah perusahaan ponsel pintar untuk membantu mengembangkan baterai yang berdaya tahan seminggu.

Bloomberg memberitakan, Senin (8/2/2016), tenaga baterai tersebut didapat dengan cara mengonversi hidrogen menjadi listrik. Teknologi ini ramah lingkungan karena limbah yang dihasilkan hanya berupa panas dan air.

Sel bahan bakar yang digunakan mirip dengan yang dipakai mobil berbahan bakar hidrogen, namun tentunya berukuran jauh lebih kecil agar bisa dimasukkan ke dalam ponsel.

Menurut DailyMail (8/2), Intelligent Energy telah memamerkan sebuah purwarupa pada November 2015. Pada prototipe tersebut isi ulang hidrogen dilakukan menggunakan soket yang biasa dipakai headphone.

Inovasi itu rupanya menarik perhatian sebuah perusahaan ponsel yang kemudian menyediakan dana pengembangan tersebut.

Intelligent Energy tidak mengungkap nama produsen ponsel itu, hanya menyebutnya sebagai "operator yang sedang berkembang".

"Ponsel yang ditenagai dengan sel bahan bakar bisa mulai muncul di pasar dalam waktu dua tahun jika kerja sama yang kami jalani ini berjalan sesuai rencana," ujar Henri Winland, CEO Intelligent Energy.

Julian Hughes, Penjabat Direktur Pelaksana Intelligent Energy, menambahkan bahwa teknologi sel bahan bakar pada ponsel akan mengakhiri apa yang disebutnya sebagai dilema daya tahan baterai.

Konsumen, menurut Hughes, semakin menuntut ponsel mereka untuk melakukan melakukan banyak hal, namun inovasi teknologi baterai belum bisa mengimbangi tuntutan tersebut.

"Apa yang kami tawarkan ini adalah sebuah solusi yang bersih dan efisien. Selain itu, konsumen bisa menjadi benar-benar mobil, tidak ada hambatan listrik lagi," paparnya.

Fuel cell yang digunakan tersebut sangat tipis sehingga bisa dimasukkan dalam ponsel, misalnya iPhone 6, tanpa membuatnya menjadi lebih gemuk. Satu-satunya perbedaan adalah adanya lubang-lubang kecil di bagian belakang untuk membuang uap air yang dihasilkan.

Untuk mendukung sel bahan bakar itu, mereka juga tengah mengembangkan wadah kecil yang akan diisi gas hidrogen dan diletakkan di bagian bawah ponsel. Gas di dalam wadah daur ulang itu akan cukup untuk memberi tenaga pada ponsel hingga 7 hari.

Intelligent Energy menyatakan masih butuh waktu sekitar dua tahun untuk menyempurnakan wadah tersebut.

Baterai fuel cell itu akan dijual dengan harga USD234 (Rp3,1 juta) termasuk sebuah wadah. Isi ulang wadah membutuhkan biaya USD9,35 (Rp126.000).

Gawai bertenaga sel bahan bakar pastinya sangat cocok untuk digunakan di area di mana sambungan listrik masuk sulit ditemukan, misalnya di Benua Afrika.

Intelligent Energy telah dikenal dengan teknologi ramah lingkungan mereka yang diadaptasi oleh perusahaan besar seperti IKEA dan Morgan Stanley. Black Cab, taksi berwarna hitam yang sudah menjadi salah satu ikon kota London, sudah menggunakan sel bahan bakar yang ramah lingkungan buatan perusahaan ini.

Berbasis di Loughborough Inggris, NDTV menyebutkan Intelligent Energy telah berpengalaman selama lebih dari 25 tahun dan memiliki sekitar 1.000 paten. Sebagai tambahan dari taksi yang bebas emisi berbahaya, perusahaan ini juga telah bekerja sama dengan Boeing Co. untuk membuat pesawat pertama yang ditenagai dengan sel bahan bakar.

Bukan yang pertama

Meski bakal menciptakan baterai fuel cell hidrogen pertama, Intelligent Energy bukanlah perusahaan pertama yang berupaya memanfaatkan fuel cell sebagai sumber tenaga barang elektronik.

Pada 2009 Toshiba mengeluarkan baterai fuel cell yang menggunakan methanol sebagai bahan bakar, dikenal dengan nama direct methanol fuel cell (DMFC).

Namun saat itu Toshiba membatasi produksi hanya 3.000 unit dengan harga USD328, sekitar Rp4,4 juta, per buahnya, seperti dikabarkan PCWorld.

Lalu ada juga Lilliputian System yang mengembangkan baterai fuel cell bertenaga butane yang dibanderol USD299.99 (Rp4 juta). Namun, mengutip Forbes, perusahaan ini tutup pada 2014.

Ada pula Point Source Power dengan fuel cell yang menggunakan biomassa, gas yang dihasilkan dari makhluk hidup.
Post A Comment
  • Blogger Comment using Blogger
  • Facebook Comment using Facebook
  • Disqus Comment using Disqus

No comments :


News

[News][bleft]

Opinion

[News][threecolumns]

Blog

[News][twocolumns]